Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Naralita. Naralita melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu.Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Bokep STW Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya.Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Terus.. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”
“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. ini asli?”
“Asli, 100 persen,” jawabku.Naralita geleng-geleng kepala. Makin lama tusukanku makin dalam. Nafasnya terengah-engah. “Mas.. “Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”
Naralita mendekat ke arahku. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Lama-lama Naralita sering tinggal di rumah kami. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Ayo,” kata Naralita sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku. Naralita mulai tidak banyak mampirke rumah.




















