Sesekali dia menyentuh klitorisku.“Dodi… ah! Vidio Porno Ramuan itu disedu dengan air panas. Aku mendekatinya, dengan maksud agar dia tetap hidup semangat menghadapi semua ini.Jika pagi, kami selalu berdua di rumah. Aku sudah tak tahan. Dodi membelai-belai kepalaku dan menciumi kening dan pipiku.Setelah minum air putih, kami terbaring sejenak. Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan,” kataku menenangkan jiwanya. Setelah Dodi melap vaginaku dan penisnya, dia mengecup bibirku dengan lembut.“Aku mencintaimu, Ma… Aku mencintaimu!” Aku tak bisa menjawab apa-apa. Aku sudah melapisinya dengan selimut tebal, agar sedikit lebih lembut dan sedikit lebih mesra. Cengkeramannya pada pantatku semakin kuat dan ciumannya pada leherku semakin kuat juga. Dodi tersenyum. “Kenapa, Ma? Hal yang belum pernah aku rasakan. Setelah membersihkan diri, kami duduk di taman kecil itu. Salahkah aku mengatakan kepada Dodi kalau aku merindukannya? Mama segalanya bagiku,” katanya pula.“Jangan, Dodi… nanti ketahuan.” kataku.“Kita harus pandai merahasiakannya, Ma.” jawab Dodi, sembari terus menggenjotku
















