Kita pulang aja yuk.”“Alaa, Mer. “Ouuhhh Don!” desahku.Temanku meraih tubuhku yang ramping. Bokeb Temanku itu yang kaget terlempar ke lantai. Temanku dengan gemas mencium bibirku yang merekah mengundang.Kedua belah buah dadaku yang ranum dan kenyal merapat pada dadanya. Aku mulai menggerinjal-gerinjal. Itupun masih jarang sekali.Bahkan ke diskotik pun aku hanya pernah satu kali. Tapi sekonyong-konyong mataku berkunang-kunang. Matanya terbelalak melihatnya. Kuakui, wajahku terbilang cantik, mata indah, hidung bangir, serta dada yang membusung walau tidak terlalu besar ukurannya.Semua itu ditambah dengan tubuhku yang tinggi semampai, sedikit lebih tinggi dari rata-rata gadis seusiaku, memang membuatku lebih menonjol dibandingkan yang lain. Temanku itu yang kaget terlempar ke lantai. Darah kelaki-lakiannya dengan cepat semakin tergugah untuk menggagahiku. Aku semakin menggerinjal-gerinjal dan berulang kali menjerit.Kepala temanku turun ke arah dadaku.




















