Setelah puas bermain di kedua payudaranya, bibirku turun ke perutnya, menjilati pusarnya yang imut. Takdir sederhana yang memaksanya terkungkung dalam sangkar raksasa berlabel, Status Sosial.Kini semuanya berubah. Bokep Jilbab/Hijab Buru-buru aku mengambilkan air untuknya.Setelah beberapa saat, dia mulai dapat mengendalikan dirinya, lalu menatapku yang masih dalam keadaan tanpa busana. “Bangetttt.”Ah rasa dingin yang dihasilkan oleh hujan ini sudah enggak ada artinya lagi buatku. Tiga jam sudah aku memandangnya dari luar toko, hujan masih turun dengan lebatnya seolah ada lautan di langit sana yang gak pernah habis memuntahkan airnya.Setelah mendapatkan beberapa pakaian, Sava sepertinya sudah puas berbelanja dan membayarkan ke meja kasir. Air mataku terus bercucuran, aku bersimpuh diantara tembok rumah sakit, gak peduli lagi dengan pandangan orang-orang yang iba terhadapku.Bodoh…bodoh…bodoh, seharusnya aku menjaga Sava sampai ke tujuan, seharusnya aku aaaaaaakkkkkkhhhh. Terjadi suatu moment dimana hanya desiran-desiran nafas yang penuh dengan cinta berbaur menjadi satu, menyampaikan lantunan-lantunan kasih dari




















