“Mbak, jangan nyubit lagi Mbak, ampun Mbak..”, katau meminta belas kasihannya. Bokep Rusia nggak seperti biasanya”, tanya Iswani. Setelah kukenakan celana pendek kubuka pintu, ternyata yang ada dihadapanku adalah Iswani yang telah kembali balik kekamar setelah keluar entah kemana dan berapa lama. Dengan berusaha secermat mungkin berdasarkan data yang ada dan catatanku, aku mulai membuat rencana kerja. Kuperlambat gerakanku untuk memperpanjang babak ini. Kucumbu tengkuk kirinya dan sesekali kukulum telinga kirinya. “Terus yang mengantar Mbak ke bus di Balikpapan, suami yang ke berapa?”, tanyaku halus. Seusai mengulang dan merubahnya hingga kurasa cukup, kuhentikan kegiatanku tersebut. Mengantisipasi cubitannya yang menyakitkan, kedua tangannya kutangkap dengan cepat. “Kenapa Mbak mau dimadu?”, tanyaku tambah penasaran. “Tumben Tok tidurmu sebentar, bangunmu pagi sekali ya, aku sempat melihatmu sibuk tapi karena masih ngantuk jadi aku pilih tidur lagi aja daripada membantumu”, komentarnya.




















